Aku dapati lagi diriku terpuruk disudut dunia. Pipi memar, biru disekitar mata dan darah merembes dari sobekan kecil dipelipis membasahi wajahku. Dimulutpun terasa anyir darah yang keluar dari gusi akibat gigi gerahang yang patah. Luka akibat pertarungan sengit yang ku peroleh ketika terjebak dalam pertarungan yang tidak pernah aku ketahui awal dan akhirnya. Kemarahan menjebak diriku dan membuatku bertarung habis-habisan.
Tapi mengapa tak ada mayat yang terlihat ? mengapa tak ada kobaran api yang terlihat ? mengapa tak ada ledakan yang terdengar ? mengapa tak nampak kehancuran ? mengapa hanya ada diriku yang tersudut tak berdaya ?
Sebenarnya siapa yang aku lawan ? pada siapa sebenarnya aku marah hingga membuatku berada dalam pertarungan sengit ?
Mungkinkah aku melawan diriku sendiri ? mungkinkah aku marah pada diriku sendiri ?
Sambil menyeka darah di wajah yang mulai membuat pandanganku kabur aku mulai menyadari bahwa tak ada sebutir peluru-pun yang aku luncurkan dari selungsongnya, tak sebuah Molotov yang aku lemparkan dan pukulanku tidak mengarah kesiapa-siapa kecuali pada diriku sendiri.
Lalu kenapa aku marah ?
Mungkinkah aku marah karena kepengecutanku akibat ketidak mampuanku menghancurkan semua ini ? tapi bukankah kemarahanku itulah yang membuatku menjadi tolol hingga tak mampu menghancurkan apapun ?
Kenapa semuanya seperti lingkaran setan yang tak berujung ?
Tidak, ini bukan lingkaran setan. Ini ada awal dan ada akhirnya hanya saja diriku telah membuat awal dan akhirnya bersambung dan saling tumpang tindih.
Rasa letih yang teramat sangat membuat diriku tersandar pada sebuah tiang yang menyanggah langit.
Terlihat jelas didepanku langit mendung tapi jauh dibelakangnya pelagi nan indah juga terlihat. Mungkin diujung sana hujan telah berlalu dan hanya butiran-butiran tipis air hujan yang tersisa membiaskan cahaya matahari yang telah berhasil menembus gumpalan awan hitam. Itu jauh diujung sana sementara disini langit masih hitam dan hujan belum pasti turun. Badai mungkin saja datang tanpa diketahui kepastiannya. Disini, disisiku ketidak pastian masih menyelimuti segalanya membuat semua terlihat kabur.
Aku tidak dapat lagi menahan darah dalam mulutku dan akhirnya ku muntahkan. Air liur yang bercampur darah membuat darah mengencer atau membuat liur menjadi merah, membasahi tanah disekitarku.
Pandanganku perlahan mengabur lalu menghitam dan akhirnya semuanya hilang.
…
entah berapa lama, entah tertidur atau pingsang tiba-tiba aku melihat didepanku hadir lagi sesosok tubuh yang membuat kemarahku bergejolak. Sepontan aku bergiri dan tanpa berpikir panjang aku layangkan sebuah pukulan ke arah sosok itu. Pukulanku tak mengenai apa-apa. Tiba-tiba dan tanpa aku sadari sebuah pukulan bersarang lagi diwajahku. Akupun terpetal dan jatuh tak sadarkan diri.